Rabu, 17 Oktober 2007

Dua Bulan, Owa Jawa tak Kunjung Memperlihatkan Dirinya

DUA bulan sudah aku tinggal di dalam Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) Resort Selabintana, namun tak kunjung jua Owa Jawa (Hylobates moloch) memperlihatkan dirinya. Sebenarnya aku sangat ingin melihatnya, ingin sekali menyaksikan atraksi bergelayutannya (brankiasi) antara batang pohon di atas ketinggian dari satwa yang arboreal (hidup di pohon) tersebut.

Buku panduan lapangan Primata Indonesia karya Jatna Supriatna dan Edy Hendras W sudah kumiliki. Peralatan seperti binokuler dan monokuler sudah kupersiapkan. Begitu juga kamera foto dan kamera video untuk mendokumentasikannya. Namun, usaha melihat dan menyaksikan kembali Owa jawa di Resort Selabintana itu mendapatkan jalan buntu.

Padahal, seingatku pada tahun 1996 untuk melihat satwa langka itu dengan mudah sekali, kendatipun tanpa harus memanfaatkan binokuler maupun monokuler. Kelompok Owa jawa itu biasanya berakhir nongkrong dan tidur di pohon Kiara. Jaraknya pun relatif dekat dari Pusat Informasi TNGP Resort Selabintana. Bila diambil lurus, paling jaraknya hanya sekitar 50 meter ke arah Barat Daya.

Banyak alasan dan kemungkinan hingga spekulasi, mengapa Owa jawa itu tidak mau nonghol dan memperlihatkan aksinya padaku…………..Tidak menutup kemungkinan juga, apakah Owa jawa di Resort Selabintana itu benar-benar sudah punah ?

Owa jawa atau dalam bahasa Inggrisnya Silvery Javan Gibbon merupakan salah satu satwa endemik (asli) yang hanya ditemukan di Pulau Jawa yang kelangsungan hidupnya sangat terancam kepunahan. Ancamannya berasal dari berbagai kemungkinan, apalagi sistem kekeluargaan Owa jawa yang menganut prinsip monogami (setia, sehidup semati hanya dengan pasangannya) dan jarak angka kelahirannya pun sangat lama 3 – 4 tahun dengan hanya melahirkan 1 - 2 ekor bayi.

Ancaman lain berasal perburuan yang masih terus berlangsung, juga masih menjadi momok yang terus mengancam kelangsungan Owa jawa. Pengrusakan hutan dan perubahan fungsi hutan bisa jadi merupakan ancaman paling terbesar, karena menyangkut habitatnya. Belum lagi ancaman kegiatan wisata dan wisatawannya yang tidak pro satwa, apalagi Owa jawa merupakan satwa yang sangat sensitif.

Sebenarnya mengamati Owa jawa di blok Citinggar (sebelah barat dari Information centre) hanya iseng saja, karena aku sempat bergabung menjadi sukarelawan sejak tahun 1990-an. Dan sempat pula iseng-iseng mencatat kehadiran Owa jawa tersebut di lokasi yang selama dua bulan lalu kuamati kembali menunggu kehadirannya. Catatan yang tidak detail hanya sebatas coretan tangan dari pada ga nulis, berkisar antara Kamis, 4 Juli 1996 hingga Senin, 15 Juli 1996.

Dalam catatan tersebut, ada empat Owa jawa terdiri dari dua dewasa dan dua bayi yang kuyakini bertengger dan tidur di pohon kiara. Dan bila kuingat-ingat, di pohon kiara itu, aku pun sering menyaksikan atraksi Owa jawa yang bergelantungan hingga mencapai enam ekor. Bahkan sempat sedih dan kasihan kalau sudah menjelang malam, apalagi turun hujan deras.

Sempat terpikir dalam benakku, apakah mereka itu tidak kedinginan, bagaimana bayi Owa jawa yang mungil-mungil itu apakah dilindungi induknya. Apakah tidak akan terserang flu, karena seharian kecapaian setelah bermain-main bergelayutan di batang dan ranting pohon. Kuberpikir juga bagaimana kalau mereka saat tidur pulas mengigau lalu jatuh. Dan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benakku yang hingga kini tak terjawabkan………

Dalam buku catatan tersebut, bukan saja Owa jawa yang beratraksi di blok Citinggar, melainkan ada primata lainnya, Lutung (Trachhypitecus auratus) dan Surili (Presbytis comata). Seingatku, bukan seingat penelti hasil akademisi, yang muncul dan kelihatan pertama kali di sekitar blok Citinggar tersebut biasanya Lutung, lalu diikuti Surili dengan suara teriakannya yang khas. Dan yang terakhir tampil Owa jawa, biasanya sudah terdengar suaranya yang khas, kendatipun masih di kejauhan.

Bila diamati mendalam, ketiga primata itu nampak ada tingkat kekuasaan sesuai dengan lereng di blok Citinggar. Lutung selalu menjadi pendahulu dan berada di pohon yang letaknya paling bawah lalu diikuti Surili di tengah dan Owa jawa di bagian pohon yang tumbuh paling atas.

Belajar dari pengalaman 10 tahun lalu, sebenarnya aku sudah yakin akan berhasil melihat Owa jawa di blok Citinggar. Apa sebabnya pada awal pengamatan 25 Juli 2007 aku melihat enam ekor Lutung yang beberapa hari selanjutnya muncul dua ekor Surili. Dalam benakku, berarti Owa jawa tidak lama lagi akan muncul. Kuperhatikan setiap pagi, mungkin akan terdengar suaranya, namun, hingga pengamatan berakhir, tidak muncul-mucul juga.

Bahkan pada suatu malam, aku sempat bermimpi kalau dari tiga jenis primata itu turun secara bergiliran hingga batu yang berada hanya sekitar 10 meter ke arah Barat dari Pondok Jaga. Dan aku hanya bisa terpaku dan bengong menyaksikannya dari balik kaca jendela. Ketiga kelompok primata tersebut bergaya di depanku dan akupun sibuk memainkan kameraku dari balik jendela kaca.

Aku tetap bersemangat dan masih ingin melihatnya…………….Kendatipun, memang Owa jawa tersebut kuyakini sulit sekali untuk dapat kembali ke Blok Citinggar di samping Information Centre. Dan nampaknya hanya bisa menyaksikan Owa jawa di kedalaman rimba belantara, karena pada suatu hari akupun sempat mendengar lengkingan khas suaranya di Jalur Pendidikan Lingkungan, sekitar 1.300 meter dari Information Centre. Dan kuyakini, semuanya Tuhanlah yang mengatur.

Tidak ada komentar: